blank

Akankah Kesejahteraan Guru PAUD di Pedesaan akan Terwujud?

Mohammad Fauziddin, M. Pd,
Dosen PGPAUD Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Beberapa saat yang lalu, penulis sempat berbincang dengan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini dari Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai salah satu Perguruan Tinggi ternama di Provinsi Riau. Perbincangan tersebut terkait pengalaman mahasiswa bekerja menjadi Guru PAUD di daerah pedesaan di Kabupaten Kampar.

Gaji Guru PAUD di Pedesaan

“Gaji kami satu bulan Rp. 150.000, masuk setiap hari dari jam 8.00 – 11.00, siswa PAUD disana dikenakan biaya pendidikan Rp. 25.000 itupun banyak yang menunggak pembayarannya” ungkap mahasiswa tersebut.

Dari ungkapan tersebut dapat dipahami bahwa kondisi ekonomi masyarakat pedesaan masih kurang dan faktor kesadaran orang tua utamanya masih lemah dibandingkan dengan masyarakat perkotaan sehingga pihak pengelola menentukan biaya pendidikan rendah agar masyarakat pedesaan dapat menjangkaunya.

Kondisi ini tentu saja berpengaruh terhadap penerimaan pengelola sehingga alokasi terhadap gaji guru pun harus menyesuaikan pemasukan keuangan dari siswa PAUD. Sebagai ilustrasi jika jumlah siswa 20 anak, maka penerimaan perbulan 20×25 ribu = 500 ribu dengan asumsi semua siswa bayar tepat waktu. Sekolah memiliki satu kepala sekolah dan dua guru ditambah biaya operasional listrik, air, dan kebersihan. Tentu saja hal ini membuat pengelola memutar otak agar bisa memenuhi kebutuhan sekolah tersebut. Bahkan pengelola harus merogok kocek sendiri untu memenuhi kebutuhan tersebut.

Gaji Guru PAUD di Perkotaan

Informasi yang penulis dapat terkait biaya pendidikan PAUD di Kota Bangkinang berkisar 200-500 ribu per bulan, sehingga berdampak pada kesejahteraan guru pengajarnya yang mendapatkan gaji jauh lebih banyak dibandingkan dengan guru PAUD di Pedesaan. Bahkan semakin sedikit pengeluarannya jikalau sebagian gurunya berstatus PNS yang digaji oleh negara.

Bilamana Kesejahteraan Guru PAUD Pedesaan

Beberapa program pemerintah pusat maupun daerah dilaksanakan untuk menanggulangi hal ini, namun persyaratan yang harus dipenuhi oleh lembaga PAUD belum Ramah Pedesaan. Misalnya Sekolah harus memiliki kepada sekolah atau guru yang sudah Sarjana bidang PAUD. Kasus yang terjadi Sarjana PAUD lebih memilih mengajar di Kota karena gajinya lebih menjanjikan, sehingga guru guru PAUD di pedesaan biasanya belum S1 dan banyak permasalahan lainnya.

Untuk itu perlu fleksibelitas kebijakan program agar lembaga PAUD di pedesaan dapat lebih diperhatikan kesejahteraan. Dengan demikian kesejahteraan Guru di pedesaan juga akan lebih baik lagi.

Kemandirian masyarakat utamanya yang memiliki anak usia dini untuk saling bahu membahu memajukan pendidikan pada tahapan paling dasar dapat menjadi solusi dalam rangka lebih memperhatikan kesejahteraan lembaga PAUD utamanya pada guru pengajarnya (mf)

Related Posts