Joni, M.Pd (dosen PG-PAUD Universitas Pahlawan)
Bulan Ramadan Baru saja memasuki fase hari-hari pertama di mana masih sangat terasa sekali Lihat aktivitas Ramadan di malam hari masjid-masjid ramai atau penuh dengan jamaah sedangkan di sore hari lapak-lapak takjil disesaki oleh pengunjung yang ingin membeli Sebagai persiapan takjil Hal ini Tentunya merupakan berkah tersendiri bagi penjual takjil musiman
Puasa diwajibkan bagi seluruh pemeluk agama Islam asalkan sudah baligh sehat dan berakal adapun yang di luar itu mengikuti ketentuan yang berlaku dalam agama Islam sementara anak-anak masuk pada kategori yang belum wajib untuk melaksanakan puasa karena memang belum balik meskipun sehat dan berakal akan tetapi ibadah puasa perlu mulai di internalisasikan pada anak sehingga memiliki pemahaman yang utuh sebelum mereka baligh dan diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa
Proses internalisasi puasa atau nilai-nilai puasa perlu dilaksanakan dengan cara yang menyenangkan sehingga proses itu dapat berjalan lancar, di sini kita mencoba melihat poin-poin atau titik-titik di mana saja kegembiraan anak anak selama bulan Ramadan berlangsung yang pertama kegembiraan anak terlihat pada saat sahur asalkan anak dapat kita bangunkan dengan cara yang baik maka proses sahur sendiri sebetulnya memerlukan merupakan proses yang sangat menggembirakan bagi anak jadi dalam hal ini apa saja yang perlu kita tanamkan pada anak di saat sahur,Yang dapat kita tanamkan pada anak saat sahur adalah sahur itu sendiri merupakan sunnah karena di dalam sahur ada keberkahan selain puasa itu adalah kebutuhan akan sehat Jadi dalam kegiatan dalam makan sahur itu mungkin yang perlu kita lakukan sebagai orang tua atau yang memiliki anak memiliki anak usia dini adalah menyediakan sahur atau makan sahur sesuai dengan kesukaan anak Maka akan muncul kegembiraan saat anak makan yang sesuai dengan seleranya Selain itu perlu juga kita sampaikan kepada anak makan sahur itu sewajarnya secukupnya tapi penting untuk makan sahur dan tidak berlebih-lebihan karena berlebih-lebihan itu pada prinsipnya adalah perbuatan setan makan diawali dengan doa kemudian mencuci tangan makan dengan tangan kanan tidak tergesa-gesa tidak mencela makanan dan diakhiri dengan doa sebelum imsak atau batas akhir diperbolehkannya makan tentu diajarkan pula kepada anak untuk membaca doa untuk puasa esok harinya
Kegembiraan kedua terlihat pada saat berbuka puasa kegiatan berbuka puasa atau takjil adalah kegiatan yang memang ditunggu-tunggu oleh mereka yang berpuasa biasanya diawali oleh sang ibu yang Menyiapkan berbuka puasa atau takjil baik dengan cara dibuat atau dengan cara membeli di sini yang dapat ditanamkan pada anak adalah menyegerakan Puasa itu adalah sunnah termasuk berbuka dengan yang manis-manis juga merupakan sunnah makan sewajarnya diawali dengan membaca doa berbuka puasa selanjutnya juga harus mengajarkan kepada anak rasa empati bahwa terkadang kita mengalami yang disebut dengan lapar mata padahal yang dibutuhkan oleh tubuh kita atau konsumsi yang dibutuhkan tidak sebanyak Yang dilaparkan oleh mata, Sehingga kita tidak terkesan boros berbuka atau makan berbuka terbaik adalah tidak melebihi konsumsi biasanya yang dilakukan di luar bulan puasa Adapun tubuh kita harus memiliki tiga ruang yang pertama ruang untuk makanan yang kedua ruang untuk udara dan yang ketiga ruang untuk air Jangan lupa mengajarkan anak untuk mengantarkan takjil untuk gharim masjid atau konsumsi tadarusan.
Kegembiraan ketiga yang terlihat pada anak adalah saat waktu salat tarawih tiba sebetulnya Sebetulnya kegembiraan anak tersebut bukan saja untuk melaksanakan ibadah salat tarawih Tapi lebih karena berjumpa dengan kawan-kawan seusianya atau peergroupnya oleh karenanya diharapkan pengurus-pengurus masjid ramah terhadap anak-anak yang seusia ini sehingga masjid tersebut ramah terhadap anak karena banyak juga kita temukan bahwa pengurus-pengurus masjid banyak yang tidak ramah terhadap anak sehingga anak mendapatkan perlakuan yang diskriminasi disaat berada di masjid anak-anak menjadi sasaran amarah pengurus Masjid karena dianggap mengganggu kehusukan jamaah yang lain dalam melaksanakan ibadah salat tarawih sebetulnya tidak demikian bagi orang-orang yang terbiasa khusyuk keberadaan anak tidak akan mengganggu kehusukan mereka justru keberadaan anak-anak di rumah ibadah semakin meyakinkan kita bahwa agama ini akan tetap eksis karena ada penerus dari anak-anak yang sekarang mungkin datang ke masjid bukan untuk ibadah tapi untuk bertemu atau bermain dengan kawan-kawan,
Sebaliknya anak-anak seperti ini lambat laun akan berubah dari melihat saja orang melaksanakan salat tarawih selanjutnya mengikuti salat tarawih lalu fokus atau khusuk dalam salat tarawih yang pada akhirnya mungkin saja anak-anak ini akan menjadi imam atau penceramah dalam salat tarawih, oleh karenanya orang tua juga harus mensupport dengan cara menyiapkan peralatan anak yang akan menuju masjid guna melaksanakan salat tarawih baik pakaiannya yang disesuaikan dengan kebutuhan anak di masjid semacam baju koko atau gamis kemudian sajadahnya yang merupakan sajadah anak bukan sajadah orang tuanya yang dibawa ke masjid mengajarkan anak menggunakan sarung bagi anak yang ingin menggunakan sarung sehingga tidak mudah lepas atau copot ditarik oleh kawan-kawannya di masjid, tentu saja mewanti-wanti kepada anak agar nanti jangan ribut atau jangan banyak main di dalam masjid meskipun pada akhirnya anak melakukan itu yang jelas Mengingatkan anak meskipun pada akhirnya anak melakukan hal tersebut jangan dimarah cukup diingatkan saja sehingga anak tidak kapok atau anti kepada rumah ibadahnya sendiri, Selain itu anak-anak mungkin dapat dilibatkan dalam kegiatan tarawih itu sendiri misalkan menjadi MC untuk penceramahnya atau kalau memang memungkinkan menjadi Bilal bisa juga memberikan tausiyah agak sekitar 5 menit sebelum tausiyah utama yang sudah ditentukan oleh pihak masjid



