blank

Di PPHQ ada tiga sesi setoran. Siang, sore, dan malam. Biasanya para muqoddim (santri yang setor) suka terlambat. Susah disuruh maju. Tapi menjelang adzan dhuhur atau asar pasti rebutan alias waktu mau habis.

Di suatu malam, sesuai jadwal saya membuka lapak jam setengah sembilan malam. Tutup jam sepuluhan lebih. Sampai jam setengah sembilan lebih seperempat. Tak ada yang maju. Esoknya saya baru jaga setoran jam setengah sembilan lebih seperempat. Berharap begitu saya duduk anak-anak siap. Sampai jam sembilan baru satu yang maju. Padahal saya juga sudah patroli alias keliling cari santri yang belum setoran.

Sempat kesal. Tambah hari tambah molor. Giliran waktu mau habis rebutan. Sedangkan malam saya ada jadwal pribadi. Esoknya saya persiapan imam tahajud. Seperti biasa, malam selepas salat hajat dan makan malam. Semua spot penuh anak membuat setoran. Intinya saya tak dapat tempat mengaji. Akhirnya saya mengaji di musala tempat saya membuka setoran.

Esoknya saya asik baca buku di ruang administrasi. Adik saya Nael menghampiri,
“Mbak muqoddim sampean nunggu berjejer lo.”
“Lho kok bisa? Masih jam delapan lebih seperempat. Jadwalnya jam setengah sembilan. Biasanya juga telat.”
Jawab saya heran.
“Liat dulu baru komentar.” Saya pun ke tempat setoran.
“Lho kok udah pada ngantri kan belum waktunya?” Tanya saya.

“Soalnya Ibu kemarin jam delapan malam sudah stay di tempat setoran. Kami kasihan kalau harus menunggu kami. Jadi kami pikir setiap jam delapan Ibu sudah ready. Makanya kami di sini.” Jelas salah seorang santri.

Saya agak bingung kapan saya jaga jam segitu. Saya baru sadar setelah salat hajat dan makan malam kemarin sekitar jam delapan saya persiapan mengaji buat tahajudan. Karena kehabisan tempat saya di tempat setoran. Sejak saat itu, 18 muqoddim jarang saya cari patroli dan hampir saya tak pernah saya menunggu lama. Mereka begitu antusias tepat waktu dan bersaing.

Di situ saya sadar. Ketika saya kesal dengan ketidaksiplinan orang. Harusnya saya berkaca sejauh mana upaya saya. Tak perlu mencari mereka kan mengikuti. Karena semua berawal dari diri sendiri.

Related Posts